7 Des 2007

TENTANG BERKURBAN

Qurban atau Kurban (bahasa Arab قربن), atau disebut juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Sedangkan ritual Qurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, dimana dilakukan penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Ritual kurban dilakukan pada bulan Dzulhijjah pada penanggalan Islam, yakni pada tanggal 10 (hari nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha.

Latar Belakang Historis
Dalam sejarah sebagaimana yang disampaikan dalam Al Qur'an terdapat dua peristiwa dilakukannya ritual Qurban yakni oleh Habil (Abel) dan Qabil (Cain), putra Nabi Adam, serta pada saat Nabi Ibrahim akan mengorbankan Nabi Ismail atas perintah Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Habil dan Qabil
Pada surat Al Maaidah ayat 27 disebutkan:
Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembah-kan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti mem bunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguh-nya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa".

Ibrahim dan Ismail

Disebutkan dalam Al Qur'an, Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim untuk mempersem-bahkan Ismail. Diceritakan dalam Al Qur'an bahwa Ibrahim dan Ismail mematuhi perintah tersebut dan tepat saat Ismail akan dise-mbelih, Allah menggantinya dengan domba. Berikut petikan surat Ash Shaaffaat ayat 102-107 yang menceritakan hal tersebut.

Dalil Tentang Berkurban

Ayat dalam Al Qur'an tentang ritual kurban antara lain :
· surat Al Kautsar ayat 2: Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah (anhar).
Sementara hadits yang berkaitan dengan kurban antara lain:
· “Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berqurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat Ied kami.” HR. Ahmad dan ibn Majah.
· Hadits Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: “Wahai Rasulullah SAW, apakah qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Qurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.” Mereka menjawab: “Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan qurban itu?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan.” Mereka menjawab: “Kalau bulu-bulunya?” Rasulullah menjawab: “Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan.” HR. Ahmad dan ibn Majah.
· “Jika masuk tanggal 10 Dzul Hijjah dan ada salah seorang diantara kalian yang ingin berqurban, maka hendaklah ia tidak cukur atau memotong kukunya.” HR. Muslim
· “Kami berqurban bersama Nabi SAW di Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu sapi untuk tujuh orang. “ HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi.

Hukum Kurban
Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in, dan fuqaha (ahli fiqh) menyatakan bahwa hukum qurban adalah sunnah muakkadah (utama), dan tidak ada seorangpun yang menyatakan wajib, kecuali Abu Hanifah (tabi’in). Ibnu Hazm menyatakan: “Tidak ada seorang sahabat Nabi pun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.

Syarat dan Pembagian Daging Kurban
Syarat dan ketentuan pembagian daging kurban adalah sebagai berikut :
· Orang yang berkurban harus mampu menyediakan hewan sembelihan dengan cara halal tanpa berutang.
· Kurban harus binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing, atau biri-biri.
· Binatang yang akan disembelih tidak memiliki cacat, tidak buta, tidak pincang, tidak sakit, dan kuping serta ekor harus utuh.
· Hewan kurban telah cukup umur, yaitu unta berumur 1 tahun atau lebih, sapi atau kerbau berumur 2 tahun, domba berumur 1 tahun, dan kambing berumur 2 tahun.
· Orang yang melakukan kurban hendaklah yang merdeka (bukan budak), baligh, dan berakal.
· Daging hewan kurban dibagi tiga, 1/3 untuk dimakan oleh yang berkurban, 1/3 disedekahkan, dan 1/3 bagian dihadiahkan kepada orang lain.

Beberapa pekan lagi kita akan bertemu dengan bulan Dzulhijjah. Setidaknya ada dua hal yang menuntut perhatian sekaligus kekhu-syu‘an kaum Muslimin pada bulan ini, yaitu ibadah haji dan berkurban ( ‘udhhiyah ). Sebagaimana terhadap ibadah lainnya, kita semua ingin agar kedua ibadah tersebut diterima Allah Subhanahu wa Ta‘ala .

Untuk mewujudkan keinginan tersebut, tentu saja harus ada upaya dan ikhtiar serius dari kita. Salah satunya adalah dengan mengkaji berbagai macam referensi yang berkenaan dengan kedua ibadah tersebut. Lebih-lebih terhadap ibadah yang bersifat tauqifi seperti haji dan berkurban ini, di mana jumlah dan kaefiyah (cara)nya sudah ditetapkan Allah dan dijalan-kan oleh Rasulullah.
Dalam kaitan ini, ada dua hal yang menjadi pilar utama dari diterima atau tidaknya ibadah seseorang, yaitu ikhlas karena Allah dan mengikuti sunnah Rasulullah. Sementara men-yangkut ibadah kurban yang juga merupakan wahana pendekatan diri sang hamba terhadap Rabb-nya, ibadah ini memang rutin dilakukan umat Islam tiap tahun dan tentu kita semua sering melihat di mana-mana orang memprak-tikkannya. Namun hanya dengan melihat praktik kurban saja tidak cukup, melainkan harus berlandaskan ilmu dan wawasan yang akurat. Dan yang lebih penting lagi, apa dan bagaimana Rasulullah SAW. melakukan ‘udhhiyah ini.
Sumber: Ensklopedia Islam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: