19 Nov 2007

Masa depan Bangsa Indonesia


Seorang Arab Badui bertanya, "Kapankah tibanya kiamat?" Nabi Saw lalu menjawab, "Apabila amanah diabaikan maka tunggulah kiamat." Orang itu bertanya lagi, "Bagaimana hilangnya amanat itu, ya Rasulullah?" Nabi Saw menjawab, "Apabila perkara (urusan) diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah kiamat."(HR.Bukhari)
Dari hadits di atas, dapat diambil suatu wacana bahwa masa depan ummat, masa depan bangsa Indonesia berada pada kondisi dimana munculnya berbagai masalah dan yang menjadi pemecah dari masalah tersebut adalah orang yang kurang ilmu (ilmu tentang agama) atau mengangkat orang bodoh sebagai pemimpin.
Kalau kita amati, bangsa Indonesia sekarang ini, berada pada kondisi yang sangat mencemaskan, kondisi dimana orang berlomba-lomba untuk mencari materi, berlomba-lomba untuk jadi penguasa, sehingga bisa jadi menghalalkan segala cara untuk mecapai apa yang menjadi ambisi mereka. Apabila segala cara telah dilakukan, tidak memperdulikan lagi halal dan haram, tidak merujuk lagi pada Agama sebagai pedoman hidup, maka muncullah berbagai macam masalah yang asal usulnya dari manusia itu sendiri. Dan yang menjadi tumbalnya justru kalangan lemah, orang miskin, dan yang paling mencengangkan adalah regenerasi bangsa ini.
Munculnya berbagai masalah yang dihadapi bangsa Indonesia, bukan berarti tidak dapat diatasi, tetapi keengganan untuk melakukan perubahan. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan kea rah kondisi dimana hak-hak sebagai warga Negara terpenuhi. Namun hal tersebut tidak juga gampang, karena kompleksnya masalah, karena berbagai macam benturan yang hadapi, karena berbagai propaganda yang harus disikapi. Ini terlihat dengan makin banyaknya kalangan yang pandai berkalam (ucapan) namun miskin tindakan. Para pemimpin dan kalangan ulama yang harusnya menjadi contoh kepada masyarakat, justru kebablasan dan terjerumus mementingkan dunia dan menuruti hawa nafsu.
Maka benarlah apa yang disabdakan Rasulullah : Mendekati kiamat akan terjadi fitnah-fitnah seolah-olah kepingan-kepingan malam yang gelap-gulita. Seorang yang pagi hari beriman maka pada sore harinya menjadi kafir, dan orang yang pada sore harinya beriman maka pada pagi harinya menjadi kafir, dia menjual agamanya dengan (imbalan) harta-benda dunia. (HR. Abu Dawud)Belum terjadi kiamat sehingga orang-orang dari umatku kembali menyembah berhala-berhala selain Allah. (HR. Abu Dawud
Dengan semkin cintanya para penguasa dan kaum agamis kepada dunia, maka terjadilah perbandingan terbalik, yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin melarat, maka benarlah sabda Rasulullah “Belum terjadi kiamat sebelum seorang yang melewati kuburan berkata, "Alangkah baiknya sekiranya aku di tempat orang ini." (Maksudnya, dia ingin mati dan tidak ingin hidup karena beban berat yang selalu dihadapinya). (HR Bukhari)
Dengan cinta kepada dunia dan kesibukan mengejar dunia, sehingga hal-hal yang berkaitan dengan pembinaan, terutama pembinaan kepada anak (termasuk anak didik) telah terabaikan, karena kesibukan untuk mengejar materi sehingga anak yang kurang didikan pun mencari pelampiasan, maka benarlah sabda Rasulullah : Belum akan terjadi kiamat sehingga anak selalu menjengkelkan kedua orang tuanya, banjir di musim kemarau, kaum penjahat melimpah, orang-orang terhormat (mulia) menjadi langka, anak-anak muda berani menentang orang tua serta orang jahat dan hina berani melawan yang terhormat dan mulia. (HR. Asysyihaab).
Sebagai kesimpulan, sebagaimana kata orang bijak, “Agama itu nasihat, agama itu nasihat, agama itu nasihat”. Maka seharusnya bangsa Indonesia menjadikan agama sebagai landasan dalam mengikuti nasihat, bukan berpedoman pada nasihat yang berladaskan kalam dan hasil penalaran manusia tanpa dalil, sebab ilmu itu bukan karena banyaknya ucapan tapi banyaknya dalil.
Wallahu a’lam (Allah maha tahu).
*Oleh :
Agus Riandi
3065111 114
Teknik Informatika B
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Teknologi Yogyakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan Isi Komentar: